Selasa, 16 Mei 2017

25 Kisah Nyata Nabi dan Rasul



        Kisah 25 Nabi serta Mukjizatnya yang diberikan oleh Allah SWT dan perjuangan para Nabi dalam menyebarkan ajaran, sebelum kita semua ada di bumi ini.
Berikut ini adalah Kisah 25 Nabi dan Mukjizatnya:

1. Nabi Adam
Kisah Nabi Adam as : Diyakini sebagai Manusia pertama yang menginjakkan kakinya dibumi, sebagai pasangan Nabi Adam yaitu Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk kiri Nabi Adam.
Mereka diturunkan kebumi oleh Allah SWT karena telah berbuat kesalahan akibat godaan iblis (Syeitan). Nabi Adam dan Hawa dikaruniai 2 pasang putra dan putri yang bernama Qabil dan Iklima, kemudian Habil dan Labuda.
Qabil yang artinya bersifat Kasar, sedangkan Habil yang artinya bersifat Lembut.. Kedua sifat inilah yang akhirnya menjadi Sifat-sifat dasar manusia sampai saat ini.

2. Nabi Idris
Kisah Nabi Idris: Nabi Idris diyakini sebagai Nabi pertama yang menulis dengan Pena, Masyarakat terdahulu mempercayai pula bahwa dia dibawa ke Surga tanpa mengalami kematian. Peristiwa itu terjadi ketika Nabi Idris berusia 82 tahun.

3. Nabi Nuh
Kisah Nabi Nuh: Nabi Nuh menyebarkan ajaran untuk menyembah Allah SWT, namun masyarakat menolak dan menganggapnya gila. Nabi Nuh kemudian diberikan peringatan oleh Allah SWT bahwa akan ada banjir besar yang akan melanda daerahnya.
Oleh karena itu Nabi Nuh diperintahkan untuk membuat sebuah kapal, Namun masyarakat sekitar tetap tidak mendengarkan peringatan yang disampaikan oleh Nabi Nuh, sehingga mereka semua hanyut dalam banjir tersebut.

4. Nabi Hud
Kisah Nabi Hud: Nabi Hud tergolong dalam kaum ada yang terhormat, kehidupan mereka serba maju dan berkecukupan. Namun sayangnya mereka selalu berfoya-foya dan tenggelam dalam kehidupan Fana.
Nabi Hud mengingatkan kepada mereka untuk bersyukur dan selalu memohon kepada Allah SWT, namun mereka menolak dan akhirnya murka Allah SWT datang dengan menurunkan Azab berupa Badai Gurun selama 7 hari 7 malam, Bagi kaum yang mendengarkan himbauan Nabi Hud selamat dengan berpindah ke Kota Hadramaut.

5. Nabi Shalih
Kisah Nabi Shalih: Mukjizat Nabi Shalih yang paling terkenal adalah Unta betina yang keluar dari batu, setelah Nabi Shalih memukulkan Telapak Tangannya.
Nabi Shalih meminta agar penduduk setempat untuk tidak mengganggu Unta tersebut dan susunya boleh diperah untuk memenuhi kebutuhan penduduk miskin, namun kaum yang tidak menyukainya berusaha untuk membunuh Unta tersebut, pada akhirnya mereka dijatuhi Azab Petir dan Gempa.

6. Nabi Ibrahim
Kisah Nabi Ibrahim: Nabi Ibrahim dikenal sebagai Bapak para Nabi, dia sangat dihormati oleh pemeluk 3 Agama yaitu:
- Islam
- Kristen
- Yahudi
Nabi Ibrahim-lah yang membangun Ka'bah dikota Mekkah, keyakinannya yang kuat terhadap Islam dimulai dari pencariannya akan Tuhan. Dia sangat tidak tidak menerima orang-orang disekitarnya yang menyembah berhala, sampai akhirnya Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup.. namun Allah SWT menurunkan Mukjizatnya dengan menyelamatkan Nabi Ibrahim dari kobaran api tersebut.
  
7. Nabi Luth
Kisah Nabi Luth: Perjuangan Nabi Luth adalah menyeru kaum Sodom untuk kembali ke jalan yang benar yaitu meninggalkan Homoseksual, kemudian menyembah Allah SWT.
Pada akhirnya Allah SWT berfirman agar Nabi Luth segera meninggalkan pemukimannya dan kemudian Allah SWT menurunkan Azab yang pedih kepada kaum tersebut.

8. Nabi Ismail
Kisah Nabi Ismail: Nabi Ismail dan keluarganya merupakan orang-orang yang terdahulu melaksanakan Ibadah, Suatu saat Nabi Ismail haus dan Ibunya bolak-balik dari Bukit Safa-Marwah untuk mencari air, hingga akhirnya keluarlah sebuah mata air yang saat ini dikenal sebagai "Air Zamzam".
Dalam perjalanan menuju tempat penyembelihan, Nabi Ismail digoda oleh Syeitan agar membatalkan niatnya. namun Nabi Ismail tidak goyah dan melempar Syeitan tersebut dengan Batu, yang saat ini menjadi Ritula Ibadah Haji yaitu Lempar Jumrah.
Seperti yang kita ketahui, saat akan disembelih jasad Nabi Ismail digantikan oleh seekor Kambing, yang akhirnya menjadi cikal bakal Ibadah Idul Adha.

9. Nabi Ishaq
Kisah Nabi Ishaq: Nabi Ishaq lebih banyak menemani Bapaknya yaitu Nabi Ibrahim dalam berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam.

10. Nabi Ya'kub
Kisah Nabi Ya'kub: Nabi Ya'kub adalah Kakek Moyang para Rasul sebelum masa Nabi Muhammad SAW. Sikap dan cara berpikirnya tentu berpengaruh kepada para Rasul keturunannya serta kaum Yahudi dan kemudian Nasrani penegak panji keesaan Allah SWT sebelum era Nabi Muhammad SAW.

11. Nabi Yusuf
Kisah Nabi Yusuf: Nabi Yusuf dikisahkan dalam riwayatnya sebagai seorang pria yang sangat tampan dan sangat piawai dalam memimpin negaranya, sejak kecil dia mendapat mimpi yang tidak biasa.. dan ketika besar Nabi Yusuf dapat mentakwilkan mimpinya tersebut sehingga dia sangat dihormati oleh masyarakat sekitarnya.

12. Nabi Ayyub
Kisah Nabi Ayub: Keluarga Nabi Ayub dikenal sangat kaya raya dan sangat Dermawan, namun kesejahteraan ini tidak membuatnya sombong, ini yang mendorong iblis (Syeitan) untuk menggodanya.
Allah SWT pun menentang iblis sekiranya dia dapat meruntuhkan Iman Nabi Ayub.. Ujian itu pun tiba, seluruh harta yang dimiliki Nabi Ayub terbakar, setelah itu Nabi Ayub pun terserang penyakit kulit hingga 80 tahun lamanya. namun dia dan istrinya yang Setia, Rahmah, tetap bertawakkal kepada Allah SWT.
Sampai akhirnya Allah SWT berfirman agar Nabi Ayub menapakkan kedua kakinya di tanah, kemudian dari tanah tersebut keluarlah air yang dapat menyembuhkan penyakit Nabi Ayub yang dideritanya selama 80 tahun.

13. Nabi Dzulkifli
Kisah Nabi Dzulkifli: Sejarah menyebutkan bahwa Nabi Dzulkifli adalah putra Nabi Ayub, dikisahkan pula bahwa dia mewarisi sifat sabar ayahnya yaitu Nabi Ayub.
Suatu saat beliau ditunjuk untuk menjadi Raja setelah dapat memenuhi persyaratan yang diminta, yaitu calon pengganti haruslah seorang yang sanggup berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari, dan bukanlah seorang yang pemarah.

14. Nabi Syuaib
Kisah Nabi Syuaib: Nabi Syuaib menyebarkan ajaran Islam didaerah Madyan, namun masyarakat Madyan menolak ajaran tersebut hingga akhirnya Allah SWT menurunkan Azab berupa Petir dan Kilat yang menghanguskan mereka.

15. Nabi Musa
Kisah Nabi Musa: Kisah pertarungan Nabi Musa melawan Fir'aun merupakan salah satu kisah yang paling tersohor, dikisahkan bahwa Fir'aun merasa terancam dengan keberadaan Nabi Musa yang menyebarkan ajaran Islam untuk mengesahkan Allah SWT.
Mereka bertarung dan akhirnya Nabi Musa memenangkannya dengan bantuan tongkanya, kemudian Nabi Musa dan kaumnya dikejar oleh para pengikut Fir'aun. Namun mereka berhasil lolos dengan bantuan tongkat Nabi Musa yang dapat membelah lautan.
Nabi Musa akhirnya mendapat Mukjizat Kitab Taurat yang dikenal dengan perjanjian lama yang berisi ajaran pokok 10 Perintah Allah SWT.

16. Nabi Harun
Kisah Nabi Harun: Nabi Harun disebut sebagai partner setia Nabi Musa, dia adalah sosok yang cakap berdakwah, pandai berdiplomasi, dan penuh perhatian. Nabi Harun selalu mendampingi Nabi Musa dalam berdakwah, hingga suatu saat Nabi Musa memutuskan untuk beruziah dan menitipkan pembinaan umatnya kepada Nabi Harun.
Nabi Harun juga sempat berjuang untuk memberantas penyembahan berhala yang dipimpin oleh Samiri salah seorang tukang sihir kerajaan Fir'aun.

17. Nabi Daud
Kisah Nabi Daud: Figur Nabi Daud memuncak disaat dia berhasil membunuh Jalut, Pemimpin kaum pemberontak di Palestina. Nabi Daud kemudian diangkat menjadi Raja dan berlaku sangat adil, Di masanya.. kerajaan tumbuh kuat dan masyarakat menjadi makmur.
Suatu saat Nabi Daud melarang para Nelayan untuk melaut, namun peringatan tersebut dilanggar, sehingga terjadi bencana Gempa yang menewaskan seluruh penduduk.

18. Nabi Sulaiman
Kisah Nabi Sulaiman: Salah satu keahlian Nabi Sulaiman yang paling menonjol adalah kemampuannya yang dapat berkomunikasi dengan Binatang. Dia juga merupakan Raja yang sangat bijaksana, kekuasaannya bahkan mencakup sampai Bangsa Jin.

19. Nabi Ilyas
Kisah Nabi Ilyas: Nabi Ilyas tinggal di lembah sungai Yordan yang dimana penduduknya menyembah berhala, Nabi Ilyas menyerukan kepada mereka untuk meninggalkan berhala.
Namun mereka tidak mendengarkannya, bahkan mereka menantang Tuhan yang disembah Nabi Ilyas menurunkan bencana, dan akhirnya kekeringan melanda daerah tersebut.. setelah beberapa tahun kemudian, Nabi Ilyas dapat meyakinkan kaum tersebut untuk menyembah Allah SWT.

20. Nabi Ilyasa
Kisah Nabi Ilyasa: Nabi Ilyasa merupakan kerabat dekat dari Nabi Ilyas, setelah Nabi Ilyas meninggal dunia beliau melanjutkan perjuangan Nabi Ilyas untuk menghalau penyembahan berhala yang kembali merebak di lembah sungai Yordan.
Namun kaum tersebut tidak mau mendengarkan, sehingga bencana kekeringan kembali melanda mereka.

21. Nabi Yunus
Kisah Nabi Yunus: Nabi Yunus berusaha menyebarkan ajaran Allah SWT, namun dia tidak mendapat sambutan baik dari masyarakat. Dalam perjalannya menjauhi daerah tersebut karena khawatir akan dibunuh.
Kapal yang dia tumpangi diguncang Topan dan diputuskan bahwa Nabi Yunus akan dikorbankan untuk ditenggelamkan ke laut demi keselamatan penumpang lainnya.. namun Mukjizat Allah SWT datang, Nabi Yunus dimakan oleh seekor Ikan Paus dan ditemukan masih hidup di perut Ikan Paus tersebut, Nabi Yunus pun melanjutkan perjalanannya dalam menyebarkan ajaran Allah SWT.

22. Nabi Zakaria
Kisah Nabi Zakaria: Nabi Zakaria dan istrinya yaitu Isya membaktikan dirinya untuk menjaga Baitul Maqdis - rumah Ibadah peninggalan Nabi Sulaiman di Yerusalem.
Nabi Zakaria dikaruniai keturunan oleh Allah SWT disaat beliau berusia sudah cukup uzur yaitu 100 tahun, dan Anak tersebut adalah Nabi Yahya.

23. Nabi Yahya
Kisah Nabi Yahya: Nabi Yahya mengajarkan bahwa kebenaran harus ditegakkan dengan resiko apapun, pada riwayatnya dicontohkan saat dia bersikeras dan melarang pernikahan antara seorang Paman dengan Keponakannya sendiri.

24. Nabi ISA
Kisah Nabi ISA: Nabi ISA adalah putra dari Maryam yang dilahirkan tanpa memiliki Suami, hal ini yang menimbulkan kontroversi dan hujatan bertubi-tubi kepada Maryam.
Secara ajaib Nabi ISA yang saat itu masih bayi tiba-tiba berbicara dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.. bahwa penciptaan dirinya diawali dari kedatangan malaikat Jibril kepada Ibunya.
Nabi ISA juga memperlihatkan banyak Mukjizat lainnya ketika dia tumbuh dewasa, diantaranya dengan membentuk seekor burung hidup dari tanah liat, menghidupkan orang mati, menyembuhkan kebutaan, dan mendatangkan makanan yang semula tidak ada.
Penyelamatan Nabi ISA dari penyaliban juga merupakan salah satu bentuk Mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT.

25. Nabi Muhammad SAW
Kisah Nabi Muhammad SAW: Nabi Muhammad SAW adalah Rasul terakhir dan sekaligus sebagai penutup Rasul-Rasul sebelumnya, Beliaulah yang menyempurnakan ajaran-ajaran Islam.
Mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya sangatlah banyak, salah satunya yang paling besar adalah Al-Qur'an, yang menjadi pedoman utama kehidupan manusia. Selain itu ada pula peristiwa Isra Mi'raj yang membawanya bertemu dengan Allah SWT.


Minggu, 07 Mei 2017

Ikhlas dan sabar



suatu kondisi yang mudah untuk diucapkan, akan tetapi untuk mewujudkan dan memperolehnya memerlukan pelatihan secara terus menerus. 

Mengingat pada awal kejadian manusia bersifat fitrah yang akan berjalan dan berkembang sesuai dengan pendidikan dan pengalamannnya. Sebagaimanan yang telah diwartakan oleh Rasulullah SAW " Setiap anak yang lahir dalam kondisi fitrah.
         Disamping pendidikan dan pelatihan dari orang tuanya, lingkungan dan pergaulan juga amat mempengaruhi, maka tidaklah heran ketika seorang anak lebih memperhatikan teman, lebih taat kepada teman dari pada kepada orang tuanya, hal ini dikarenakan pengaruh dari lingkungan pergaulan, pada dirinya muncul kekhawatiran bila ditinggal oleh temannya, dikucilkan oleh temannnya dan sebagainya.
         Dari pengaruh pendidikan orang tua dan lingkungan persahabatan akan membentuk sikap dan watak manusia yang akan tumbuh menjadi manusia tidak fitrah lagi. Hati yang bersih menjadi keruh, hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi bayi ketika masih berada dalam kandungan ibu selalu ikhlas dan sabar menerima keputusan dari Allah, selama 9 bulan 10 hari, berada dalam kandungan, kemana-mana selalu ikut ibunya, harus ikhlas dan sabar, begitu pula ketika sudah lahir bila kurang dari waktu yang sebagaimana layaknya bayi dalam kandungan, sehingga lahir dalam kondisi prematur, hal ini pula harus ikhlas dan sabar, sehingga ketika sudah lahir dari rahim ibu harus dimasukkan kedalam inkubator. Sungguh kesabaran dan keikhlasan itu memerlukan pelatihan yang sungguh-sungguh.
         Begitu pula kesabaran keikhlasan seorang ibu yang sedang mengandung, harus ikhlas dan sabar membawa kandungan kemanapun berada, bahkan harus berhati-hati dalam melakukan segala aktifitas. Bahkan ketika makan dan minumpun dari sebagian sari makanan untuk memberikan supley kepada calon bayi, siang malam melakukan taqarrub, meningkatkan ibadah kepada Allah. Bila ikhlas dan sabar senantiasa dilakukan maka bayi yang lahir akan menjadi bayi yang sehat, dan setelah besar akan menjadi anak yang shaleh dan shalehah yang berbakti kepada orang tuanya.
Kepayahan seorang ibu ketika sedang mengandung digambarkan didalam Alquran surat Luqman ayat 14:
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu".

        Lain lagi bagi ibu yang hamil namun senantiasa tetap melaksanakan aktifitas sebagaimana orang yang tidak hamil, makan minum dengan sembarangan, demikian pula hatinya tidak pernah digunakan untuk berdzikir, akalnya tidak digunakan untuk bertafakkur (memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah) hal ini menandakan sebagai orang yang tidak sabar dan tidak ikhlas. Maka bila ada yang mengatakan bahwa berdzikir tidak perlu banyak-banyak, biar sedikit yang penting ikhlas. Bagaimanakah akan menjadi orang yang ikhlas bila tidak bersabar untuk memperbanyak jumlah hitungan dalam berdzikir. Karena zikir dengan ketenangan akan mengarahkan seseorang menjadi orang yang sabar, dan dengan sabar ikhlaspun akan mengikutinya.
        Rasulullah SAW memerintahkan bila telah selesai shalat, untuk berzikir dengan membaca Subhanallah sebanyak 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu akbar 33 kali dan kalimat thayyibah "la ilaha illallah sebanyak 33 kali. La ilahaillallah wahdahu laa syarikalahu lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wauha 'ala kulli sytai'in qadiru", sebanyak 100 kali. Kalimat dzikir yang pendek ini disisi Allah akan memberikan timbangan amal yang amat berat, sebagimana diwartakan oleh Rasulullah SAW:
الطهور شطر الايمان, والحمد لله تملأ الميزان, وسبحان الله والحمدلله تملأ ما بين السماء والارض, والصلاة نور, والصدقة برهان, والصبر ضياء, والقران حجة لك او عليك كل الناس يغدو, فبائع نفسه, فمعتقها أوموبقها (رواه مسلم)
        Kebersihan adalah sebagian dari iman, Alhamdulillah akan memberatkan timbangan kebaikan, Subhanallah wal hamdulillah akan memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, kesabaran adalah sinar dan Alquran adalah hujjah yang akan membelamu atau menuntutmu. Semua orang berusaha, ia menjual dirinya, ada yang membebaskannya, ada pula yang menjerumuskannya (HR. Muslim").

        Kesadaran untuk senantiasa berzikir ketika dihadapkan dengan beban kerja yang menumpuk dan pikiran yang gemrungsung. Sehingga kebutuhan dzikir setalah melaksanakan shalat dilalaikan, bahkan semua bacaan didalam shalat yang merupakan dzikir juga susah untuk memperoleh kondisi khusuk, dirinya merasa kekurangan waktu akibat tekanan pekerjaan dan peluang waktu yang kurang dikendalikan. Waktu baginya terasa pendek, karena pekerjaan yang satu belum selesai datang lagi pekerjaan yang lain dengan permasalahan yang komplek dan menunggu untuk segera diselesaikan. Masih sempatkah untuk melakukan dzikir dengan ketenangan, ataukah zikir kemudian diringkas, diucapkan sekali atau tiga kali dirasa sudah cukup, sedangkan walaupun zikir di ringkas namun pekerjaan juga tetap menumpuk dan belum terselesaikan. Maka jadikan hati menjadi resah, fikiran menjadi bebal, ketegangan semakin terasai, leher terasa kaku, keluar keringat dingin, emosi semakin memuncak, ingatlah bahwa daya upaya manusia sangat terbatas. Sesuatu tidak dapat diselesaikan dengan otak saja atau dengan otot saja, namun kekuatan spiritual dengan banyak mengingat Allah hati akan menjadi tenang. Sehingga dengan ketenangan ini akan memberikan inspirasi, jalan yang lebih efektif dan efisien didalam menyelesaikan segala persoalan.

         Hati yang tenang adalah hati yang tertata, fikiran yang bisa menempatkan situasi dan kondisi yang sesungguhnya. Karena itu bila sedang melaksanakan shalat, maka hati, pikiran, emosi, gerakan tubuh menyatu dalam zikir kepada Allah, bukan justru sebaliknya tubuhnya sedang melaksanakan shalat namun hatinya entah kemana, pikirannnya memikirkan yang lain, perlu kita sadari bahwa ketika sedang menjalankan shalat terkadang dapat mengingatkan sesuatu hal yang tidak pernah dipikirkan kemudian muncul pemikiran ketika shalat, ketika lupa sesuatu maka ketika shalat sesuatu yang lupa itu menjadi ingat. Hal ini menandakan hati yang tidak tenang dan pikiran yang tidak konsentrasi.
      
        Ingatlah bahwa shalat adalah kunci segala macam amal ibadah manusia, didalam shalat penuh dengan bacaan do'a dan zikir, maka bila shalatnya sudah sempurna akan menuntut perbuatan yang lain juga akan menjadi baik. Shalat akan membentuk karakter manusia, karena dengan shalat yang khusu', memenuhi syarat dan rukunnya, maka shalat akan dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Bahkan pernah diwartakan oleh Rasulullah bahwa " Shalat adalah tiang agama, barangsiapa yang menegakkan shalat maka dirinya menegakkan agama dan barang siapa yang meninggalka shalat maka dirinya merobohkan agama. (Hadits). Maka sering orang bertanya, mengapa banyak orang yang rajin melaksanakan shalat namun maksiatnya tetap dilakukan, atau dalam bahasa gaulnya adalah STMJ, shalat terus maksiat jalan.

         Dari itu tanyalah pada diri sendiri, sudah baikkah diri sendiri dan keluarga, sejauhmana keteladhanan Rasulullah telah diteladhani, ataukah belum mengetahui keteladhanan Rasulullah, para sahabat, para mujahid Islam ketiga membela agamanya, para mujtahid ketika bersusah payah mencari dasar-dasar hukum Islam, para muhadisin yang berjuang memilih keshahehan hadits, para mutakallimin ketika berjuang membebaskan keyakinan-keyakinan yang akan merusak tauhid Islam dan orang-orang shaleh lainnya karena tidak pernah membaca tarih Islam. Bukankah wahyu yang pertama diterima oleh Rasulullah adalah perintah untuk membaca, mengenal Allah yang telah menciptakan manusi dari segumpal darah, lalu mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Bila melihat keshalehan mereka sungguh akan menimbulkan rasa iri, mengapa diri yang masih banyak kekurangannya harus menyalahkan pada orang lain.

         Maka dzikir dengan hitungan tertentu, diucapkan dengan tenang, tartil, sambil memusatkan pada keagungan, kekuasaan, kesucian Allah maka dari seifat-sifat yang tidak sabar, tamak pelan-pelan akan terkikis, sehingga akan menumbuhkan rasa ikhlas dan sabar. Sabar dan ikhlas bukan saja ketika sedang melaksanakan dzikir namun akan menajadi sarana membentuk mental spiritual yang selanjutnya akan melingkupi segala aktifitas perbuatan manusia.
           Pada umumnya kita semua bisa lebih sabar, disaat kita di uji Allah dengan hal yang menyenagkan, tapi saat kita di uji Allah dengan ujian yang tidak menyenangkan, seperti ujian kesulitan, ujian kehilangan dan atau musibah maka kebanyakan dari kita, akan merasa begitu sulit menerimanya dan sulit untuk bisa sabar.

           Ujian kesulitan, ujian kehilangan, kekurangan musibah, penyakit,  kemiskinan, adalah perkara biasa yang dihadapi oleh manusia selama hidup di dunia ini.  Perhatikan firman Allah SWT berikut ini “ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157).
          Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 2)
Ketahuilah, sabar akan sangat sulit dilakukan, apabila kita tidak mampu menyadari, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, pada hakikatnya hanyalah ujian. Harta yang kita miliki, karir yang bagus, rumah dan mobil mewah yang kita miliki, anak dan keluarga, itu semua adalah ujian dari Allah dan titipan Allah. Apakah kita bersyukur atau menjadi kufur?
Kita harus memahami dengan sebaik-baiknya bahwa Allah lah pemilik yang sebenar-benarnya atas segala sesuatu apapun yang kita miliki di dunia ini. Dengan menyadari bahwa semua yang kita miliki sebenarnya adalah milik Allah dan titipan Allah, maka begitu Allah mengambilnya dari kita, insya Allah kita akan lebih mudah merelakannya. Karena kita menyadari, bahwa semua itu adalah milik Allah dan titipan Allah.  Dan yang namanya titipan, suatu saat nanti memang pasti akan kembali pada pemiliknya, kapanpun pemiliknya menghendaki apa yang dititipkan kembali atau mau mengambilnya dari kita, maka kita harus dengan rela memberikannya.

       Jadi, jangan menjadi stres, terpukul dan merasa kehilangan yang sangat berat, apabila kemarin kita masih punya mobil, sekarang sudah tidak lagi, jangan stres dan bersedih hati apalagi sampai meratapi nasib, apabila bulan kemarin usaha kita masih sukses, sedangkan sekarang kita mengalami kegalalan yang besar.
Karena sesungguhnya dengan adanya musibah, maka seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini:  “Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

         Ketahuilah dan yakinlah, bahwa sesungguhnya dalam setiap cobaan berat yang Allah SWT berikan untuk kita, maka ada hikmah dan pahala yang besar yang menyertainya. Seperti sabda  Rasulullah SAW, “Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146]).
Rasulullah SAW  bersabda :  “Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT dalam keadan telah bersih dari dosa (HR. Tirmidzi). 
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

        Kita harus rela menerima segala  ketentuan  Allah  dan menyadari bahwa apapun yang terjadi, sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita wajib menerima segala ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan. Allah SWT berfirman :  “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)
Apabila kita ditimpa musibah baik besar maupun kecil, sebaiknya kita mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembal). ini dinamakan dengan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT). Kalimat istirja’ akan lebih sempurna lagi jika ditambah, setelahnya dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW  sebagai berikut :“Ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku.”  Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan doa di atas niscaya Allah SWTakan menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik. (Hadits riwayat Al Imam Muslim 3/918 dari shahabiyah Ummu Salamah.)
Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada anak salah seorang hamba itu meninggal maka Allah bertanya kepada malaikat-Nya, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab, ‘Ya.’ ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hati hamba-Ku?’. Maka mereka menjawab ‘Ya.’ Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?’. Mereka menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan beristirja’ -membaca innaa lillaahi dst-..’ Maka Allah berfirman, ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di surga, dan beri nama rumah itu dengan Bait al-Hamd.’.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [1408]).
Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini : “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Setiap amalan akan diketahui pahalanya kecuali kesabaran, karena pahala kesabaran itu, tanpa batas. Sebagaimana firman Allah SWT  “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala  mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)
Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang bila kita renungkan dan pahami dengan sebaik-baiknya,  insya Allah bisa membuat kita semua bisa sabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian-Nya yang paling berat sekalipun :
1.      Kita harus percaya pada jaminan Allah bahwa : ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS Al Baqarah [2] : 286).   Allah SWT yang memiliki diri kita, sangat tahu kemampuan kita, jadi tidak akan mungkin Allah memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan kita.
2.      Sebenarnya, kita semua pasti mampu untuk bisa sabar dalam segala ujian dan segala keadaan, asalkan kita kuat iman.
3.      Coba kita tanyakan pada diri kita, saat kita ditimpa suatu ujian kesulitan, kesedihan dan atau kehilangan, apa manfaat yang bisa kita ambil kalau kita tidak sabar dan tidak mengikhlaskannya? Apakah dengan ”tidak sabar” dan ”tidak ikhlas” nya kita, maka bisa menghadirkan kenyamanan untuk kita? Atau bisa membuat ujian tersebut tidak jadi datang atau tidak jadi menimpa kita? Sekarang mari kita pikirkan kembali, kita sabar atau tidak sabar, ikhlas atau tidak ikhlas, ujian kesulitan / kesedihan atau musibah tetap terjadi dan menimpa kita kan?  Jadi lebih baik kita terima dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Bila kita bisa sabar dan ikhlas menerimanya, maka insya Allah, tidak akan terasa berat lagi ujian tersebut, percayalah. Dan ingat, dalam sabar, terkandung ridha Allah SWT. Dan ridha Allah SWT terhadap kita, adalah segalanya.
4.      Kita harus selalu baik sangka kepada Allah SWT dan jangan pernah sekalipun meragukan dan mempertanyakan keputusan, ketetapan, pengaturan dan ketentuan Allah.  Kita harus bisa sabar dan ridha terhadap apapun keputusan, ketetapan dan pengaturan-Nya. Kalau kita masih merasa tidak puas dengan semua keputusan, ketetapan, pengaturan dan ketentuan Allah itu, maka cari saja Tuhan selain Allah.  Perhatikan firman-Nya dalam hadits Qudsi : ”Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku. Siapa saja yang tidak sabar menerima cobaan dari-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak ridha dengan ketentuan-Ku, maka bertuhanlah kepada Tuhan selain Aku.”





PENDIDIKAN MENTAL DAN MORAL


1.      KEBERSIHAN
2.      BUDIPENGGERTI
3.      IMAN
4.      TAQWA
5.      KARAKTER

Upaya  upaya Yang bisa dilakuan untuk Pendidikan Mental, Moral dan budaya  yaitu :
·         Para generasi muda harus didik sama orang tuanya sejak  kecil, tentang Mental, Moral dan budaya. Supaya bisa ditanamkan sejak dini.
·         Para Orang Tua Harus mau mengajak dan memberi contoh yang baik. Supaya para generasi muda bisa ngerti tentang Mental, Moral dan budaya.
·         Pemerintah harus Memasukan Mental, Moral dan budayan, jadi mata pelajaran yang wajib Di sekolah – sekolah. Supaya para generasi muda bisa ikut menanamkan kabudayan yang baik.
·          Di daerah – daerah harus bisa diadakan Pendidikan Mental, Moral dan kebudayan. Supaya membiasakan orang untuk mengerti kebudayan.
·         Di Sekolah – sekolah, Di Kantor – kantor, Di Masyarakat. Sering Saling Mengingatkan pentingnya budaya Mental, Moral yang baik.
Dengan upaya – upaya mau, yang diinginkan, para generasi muda supaya bisa mangerti marang budaya Mental yang baik.
Pentingnya Pendidikan Mental dan Moral
Bulan Mei sebagai bulan peringatan Hari Pendidikan Nasional, Pendidikan menjadi sebuah hal yang penting pada masa kini. Kalau teringat sekitar tahun 1990an, pendidikan indonesia dalam keadaan yang masih rendah, banyak yang tidak sekolah, ataupun pendidikan yang ada sangat rendah. Minat untuk melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi pun sangat rendah. Paradigma zaman dulu masih berpikir "untuk apa sekolah, lebih baik bekerja dan mencari uang sebanyak-banyaknya, jadi apapun itu. Pemikiran melanjutkan pendidikan yang tinggi hanya seperti dimiliki oleh petinggi atau para cendikiawan, sedangkan masyarakat di pedesaan terutama sangat tidak setuju jika anak mereka pergi jauh atau merantau hanya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

Dibandingkan dengan sekarang, sudah banyak mahasiswa dan pelajar yang berasal dari pedesaan datang ke perkotaan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik dan terjamin mutunya. Kemandirian seorang pelajar untuk hidup sendiri ataupun jauh dari keluarga pun dijalani, ada yang justru memperoleh manfaat besar dan menjadi lebih maju, tetapi ada juga yang justru menjadi senjata makan tuan karena justru banyak dari mereka yang terjerumus dalam gemerlapan dan keburukan negatif dalam lingkungan yang tidak baik. Hal ini yang membahayakan masa depanm seseorang sebenarnya. Pendidikan formal menjadi pilihan penting bagi setiap orang, namun ada hal penting lainnya yang lebih penting daripada sekedar pendidikan kematangan seseorang dalam memperoleh karir di masa depan.

Pendidikan mental dan spiritual atau peningkatan hal positif dalam diri seseorang menjadi sangat penting yang mencakup pendidikan agama dan mental diri yang positif.
Pendidikan ini meliputi :
1. Pendidikan sikap
2. Pendidikan pandangan benar
3. Pendidikan spiritual
4. Penanaman motivasi diri
5. Pemahaman kemampuan diri
                    Semua hal ini diperoleh dapat lebih di dominan untuk kemajuan seseorang karena masa kini kita terlalu sering melihat seorang yang terpelajar namun memiliki perilaku dan pemikiran yang salah tentang kehidupan. Apalagi semua hal negatif itu lebih menonjol di Indonesia. seperti korupsi, terorisme, pekerjaan yang salah, kriminalisme, dan kemiskinan. Bayangkan saja, pengangguran di Indonesia pun di dominasi oleh lulusan perguruan tinggi dibandingkan lulusan rendah lainnya, sebenarnya dalam hal ini bukan kesalahan intitusi pendidikan semata karena juga sudah memberikan modal dasar kepada seseorang untuk maju, hanya saja pendidikan diluar formal lainnya kerap kali tidak diperhatikan oleh orangtua ataupun lingkungan sekitar. Majelis keagamaan dan intitusi pengembangan potensi diri menjadi salah satu lingkup yang harus berperan menciptakan hal positif kembali dalam dunia pendidikan dan kemajuan bidang laiinya. Hal ini pun perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan formal terutama dalam perguruan tinggi dan sekolah tingkat atas seperti SMA, SMK, dan yang lainnya, karena seseorang dalam kondisi yang membutuhkan perhatidan dan masukan positif dalam menentukan masa depannya.
Pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang ingin diterapkan pemerintah tidak akan diperoleh esensinya dengan baik bila kita tidak sungguh-sungguh mengapresiasikannya.Kita tentu tidak ingin memiliki generasi yang hanya pintar akademis saja tanpa ada pembelajaran moral,mental dan spiritual secara berkelanjutan dalam kurun waktu tertentu. Generasi seperti itu akan cacat bila harus berinteraksi dengan lingkungan masyarakat sekitarnya.Efek yang langsung bisa terasa tentu ketidaksiapan pribadi dalam menghadapi suatu masalah dan bisa menjalaninya dengan normal.

Pendidikan dari kurikulum sekolah,pentas seni,perayaan hari besar agama,PORSENI dan acara perpisahan sekolah yang biasa rutin diadakan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan moral,mental dan spiritual seorang siswa.

Pengadakan penyuluhan moral,mental,spiritual atau pelatihan-pelatihan lainnya untuk membangun motivasi hidup sangat minim diadakan sejak dini? jawab dalam hati saja.Tingkat pengajaran moral,mental dan spiritual tentu kapasitasnya berbeda-beda diperoleh oleh setiap orang.Sudah saatnya dalam hal ini inisiatif pihak penyelenggara pendidikan maupun orang tua siswa diperlukan dan selanjutnya bisa bekerja sama dengan LSM berkompeten di bidang pendidikan moral,mental dan spiritual tersebut secara BERKELANJUTAN. Tentu dalam pelaksanaannya,tidak hanya siswa yang akan mendapatkannya,para penyelenggara pendidikan dan orang tua sebaiknya juga mengikutinya.
Akademis yang baik diikuti dengan pendidikan moral,mental dan spiritual akan membawa perbaikan secara signifikan bagi siapa saja dan tentunya untuk dunia pendidikan bangsa ini.

Dalam hal ini, pendidikan mental, spiritual dan pandangan yang baik, dalam membentuk karakter seseorang menjadi lebih baik sangat penting. Karakter seseorang lah yang menjadi hal positif dalam memberikan hasil yang lebih baik untuk masa depan seseorang. Sehingga dalam menjalani hidup seseorang bisa menentukan hal baik yang dapat dilakukan seseorang, bukan hal apa saja yang bisa memberikan keuntungan tanpa memikirkan hal positif yang seharusnya bisa dilakukan seseorang.

1.    KEBERSIHAN
Kebersihan adalah Landasan Dasar Beragama.  Coba Anda lihat dan amati dilingkungan sekitar kita,?...
Kebersihan adalah keadaan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya, debu,sampah, dan bau. Di zaman modern, setelah Louis Pasteur menemukan proses penularan penyakit atau infeksi disebabkan oleh mikroba, kebersihan juga bererti bebas dari virus, bakteria patogen, dan bahan kimia berbahaya.
Kebersihan adalah salah satu tanda dari keadaan hygene yang baik. Manusia perlu menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan diri agar sihat, tidak berbau, tidak malu, tidak menyebarkan kotoran, atau menularkan kuman penyakit bagi diri sendiri mahupun orang lain. Kebersihan badan meliputi kebersihan diri sendiri, seperti mandi, gosok gigi, mencuci tangan, dan memakaipakaian yang bersih.
Mencuci adalah salah satu cara menjaga kebersihan dengan menggunakan air dan sejenis sabun atau detergen. Mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan produk kebersihan tangan merupakan cara terbaik dalam mencegah penularan influenza dan batuk.
Kebersihan lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat bekerja, dan tempat awam. Kebersihan tempat tinggal dilakukan dengan cara mengelap tingkap dan perabot rumah, menyapu dan mengemop lantai, mencuci peralatan masakdan peralatan makan , membersihkan bilik mandi dan jamban, serta membuang sampah. Kebersihan lingkungan dimulakan dengan menjaga kebersihan halaman dan membersihkan jalan di depan rumah daripada sampah.
Tingkat kebersihan berbeda-beda menurut tempat dan kegiatan yang dilakukan manusia.Contohnya, kebersihan di rumahberbeda dengan kebersihan ruang bedah di rumah sakit.

2.    BUDI PENGGERTI
Budi pekerti terdiri dari dua kata yaitu Budi dan Pekerti. Budi yang berarti sadar atau yang menyadarkan atau alat kesadaran. pekerti berarti kelakuan.
secara etimologi Jawa budi berarti nalar, pikiran atau watak. sedangkan pekerti berarti penggawean, watak, tabiat atau akhlak.
dalam bahasa Sanskerta Budi berasal dari kata Budh, yaitu kata kerja yang berarti sadar, bangun , bangkit (kejiwaan). Budi adalah penyadar, pembangun, pembangkit. budi adalah ide-ide. Pekerti dari akar kata kr yang berati bekerja, berkarya, berlaku, bertindak (keragaan). pekerti adalah tindakan- tindakan. 
kata Budi pekerti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tingkah laku, perangai, akhlak. Budi pekerti mengandung makna perilaku yang baik, bijaksana, serta manusiawi. Di dalam perkataan itu tercermin sifat, watak seseorang dalam perbuatan sehari-hari. Budi pekerti sendiri mengandung pengertian yang positif, namun mungkin pelaksanaannya yang negatif. Penerapannya tergantung pada manusia. Budi pekerti didorong oleh kekuatan rohani manusia yakni pemikiran, rasa , dan karsa yang akhirnya muncul menjadi perilaku yang dapat terukur dan menjadi kenyataan dalam kehiduapan.
Ada juga yang berpendapat  bahwa budi pekerti atau moral dalam pengartian yang terluas adalah pendidikan. dengan kata lain budi pekerti mempelajari arti diri sendiri (kesadaran diri) dan penarapan dari arti itu dalam bentuk tindakan. penerapan tindakan berarti memperoleh pengalaman  dunia nyata atau lingkungan hidup yang dangat berperan dalam pembelajaran budi pekerti.

Pengertian budi pekerti dapat dikaji dari berbagai sudut pandang, antara lain secara etimologi (asal usul kata), leksikal (kamus), konsepsional (teori) dan operasional (praktis). 

Secara etimologi budi pekerti terdiri dari dua unsur kata, yaitu budi dan pekerti. Budi dalam bahasa sangsekerta berarti kesadaran, budi, pengertian, pikiran dan kecerdasan. Kata pekerti berarti aktualisasi, penampilan, pelaksanaan atau perilaku. Dengan demikian budi pekerti berarti kesadaran yang ditampilkan oleh seseorang dalam berprilaku. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) istilah budi pekerti diartikan sebagai tingkah laku, perangai, akhlak dan watak. Budi pekerti dalam bahasa Arab disebut dengan akhlak, dalam kosa kata latin dikenal dengan istilah etika dan dalam bahasa Inggris disebtu ethics. 

Senada dengan itu Balitbang Dikbud (1995) menjelaskan bahwa budi pekerti secara konsepsional adalah budi yang dipekertikan (dioperasionalkan, diaktualisasikan atau dilaksanakan) dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan pribadi, sekolah, masyarakat, bangsa dan negara. 

Budi pekerti secara operasional merupakan suatu prilaku positif yang dilakukan melalui kebiasaan. Artinya seseorang diajarkan sesuatu yang baik mulai dari masa kecil sampai dewasa melalui latihan-latihan, misalnya cara berpakaian, cara berbicara, cara menyapa dan menghormati orang lain, cara bersikap menghadapi tamu, cara makan dan minum, cara masuk dan keluar rumah dan sebagainya. 

Pendidikan budi pekerti sering juga diasosiasikan dengan tata krama yang berisikan kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia. Tata krama terdiri atas kata tata dan krama. Tata berarti adat, norma, aturan. Krama sopan santun, kelakukan, tindakan perbuatan. Dengan demikian tata krama berarti adat sopan santun menjadi bagian dari kehidupan manusia.

3.   IMAN
Pengertian iman dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.
Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita ingkar kepada Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.
Iman Kepada Malaikat
Salah satu makhluk Allah swt. yang diciptakan di alam ini adalah malaikat. Dia bersifat gaib bagi manusia, karena tidak dapat dilihat ataupun disentuh dengan panca indra manusia.
Sebagai muslim kita diwajibkan beriman kepada malaikat. Iman kepada malaikat tersebut termasuk rukun iman yang kedua. Apa yang dimaksud iman kepada malaikat? Iman kepada malaikat berarti meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menciptakan malaikat yang diutus untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu dari Allah.
Dasar yang menjelaskan adanya makhluk malaikat tercantum dalam ayat berikut ini yang artinya:
“Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.” (Q.S. Fatir: 1)
Hal tersebut juga dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim tentang iman dan rukunnya. Dari Abdullah bin Umar, ketika diminta untuk menjelaskan iman, Rasulullah bersabda,“iman itu engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya dan hari akhir serta beriman kepada ketentuan (takdir) yang baik maupun yang buruk.”
Dalam hadits tersebut, percaya kepada malaikat merupakan unsur kedua keimanan dalam Islam. Percaya kepada malaikat sangatlah penting karena akan dapat memurnikan dan membebaskan konsep tauhid dari bayangan syirik.
Dari ayat dan hadits di atas dapat diketahui bahwa beriman kepada malaikat merupakan perintah Allah dan menjadi salah satu syarat keimanan seseorang. Kita beriman kepada malaikat karena Al Qur’an dan Nabi memerintahkannya, sebagaimana kita beriman kepada Allah dan Nabi-Nya.

Apa arti iman?

Iman adalah percaya. Iman adalah karunia Allah, yang dikerjakan di dalam hati oleh Roh Kudus, yang menghidupkan dan memandu semua kemampuan kita menuju satu tujuan. Kita harus berdoa untuk memiliki iman, dan supaya iman kita bertumbuh. Iman kita juga akan diperkuat dengan selalu mengingat janji-janji Kristus yang berulangkali diucapkan bahwa doa-doa kita kepada Bapa, dalam nama-Nya, pasti akan dijawab kalau kita memintanya dengan iman, dan percaya sewaktu kita memintanya. Lihat Matius 7:7; Lukas 11:9; Yohanes 14:13, 15, 16; Yakobus 4:2; I Yohanes 3:22, 5:14; Lukas 11:10. Iman didefinisikan sebagai "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibr. 11:1); iman adalah pekerjaan jiwa yang dengannya kita merasa pasti akan keberadaan dan kebenaran dari sesuatu yang tidak ada di depan kita, atau tidak tampak.bagi indera manusia. Setiap orang menilai iman secara berbeda, yang akan dirasanya sukar bahkan tidak mungkin untuk menunjukkannya dengan cara-cara yang tampak. Ini merupakan hal mempraktikan iman - latihan sukarela - yang memampukan kita untuk bertambah dalam mempercayai kebenaran-kebenaran besar yang Allah berkenan nyatakan. Paulus menyatakan "sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat" (II Kor. 5:7). Yesus sendiri berfirman (Yoh. 20:29), "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya". Dengan demikian, sementara mempercayai apa yang kita lihat dan pahami akan mendatangkan manfaat, percaya pada apa yang tidak terlihat dan hanya dipahami secara samar-samar mendatangkan manfaat yang lebih besar. Ada banyak hal di alam semesta ini yang kita percayai, tanpa harus kita pahami sepenuhnya; kita percaya karena kita mendapatkan buktinya dari orang lain, meskipun bukan dari panca indera kita sendiri. Iman yang begitu saja percaya pada apa yang bisa ia lihat, pahami, jelaskan dan tunjukkan sama sekali bukan iman. "Tidak seorang pun melihat Allah", akan tetapi semua orang percaya kepada Allah. Hal-hal dalam dunia rohani tidak dapat ditunjukkan melalui perantara-perantara materiil, melainkan hanya bisa melalui perantara-perantara rohani. Menggunakan iman akan meningkatkan kerohanian kita, memampukan kita memahami berbagai hal yang tanpa latihan semacam ini tidak akan terpahami. Paulus mengatakan bagi orang Yunani terpelajar yang skeptis Injil adalah "kebodohan". Kebanggaan akan kepandaian adalah salah satu penghalang terbesar terhadap pertumbuhan rohani.

4.    TAQWA
Taqwa / takwa dalam bahasa Arab berarti memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja. Adapun arti lain dari taqwa adalah:
1. Melaksanakan segala perintah Allah
2. Menjauhkan diri dari segala yang dilarang Allah (haram)
3. Ridho (menerima dan ikhlas) dengan hukum-hukum dan ketentuan Allah
4. Taqwa ialah: a. percaya pada yg ghoib. b. mendirikan sholaat. c. menginfaqkan dari apa yg dirizqikan oleh Allooh. d. percaya pd Qur-aan dan Kitab2 sebelum nya. e. yaqiin pd hari aakhir.
5. Taqwa ialah pro kepada segala hal yg positip, anti kepada segala hal yg negatip.
6. Taqwa ialah membangun sejahtera semua manusia, memberantas korupsi dan ma'shiyyat.
Taqwa yg terutama a.l.harus mampu hafal terjemahan faatikhah.
70% jamaah masjid2 tak hafal terjemahan faatikhah.
Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. "memelihara diri dalam menjalani hidup sesuai tuntunan/petunjuk allah" Adapun dari asal bahasa arab quraish taqwa lebih dekat dengan kata waqa Waqa bermakna melindungi sesuatu, memelihara dan melindunginya dari berbagai hal yang membahayakan dan merugikan. Itulah maka, ketika seekor kuda melakukan langkahnya dengan sangat hati-hati, baik karena tidak adanya tapal kuda, atau karena adanya luka-luka atau adanya rasa sakit atau tanahnya yang sangat kasar, orang-orang Arab biasa mengatakan Waqal Farso Minul Hafa (Taj).
Dari kata waqa ini taqwa bisa di artikan berusaha memelihara dari ketentuan allah dan melindungi diri dari dosa/larangan allah. bisa juga diartikan berhati hati dalam menjalani hidup sesuai petunjuk allah.
Kedudukan Taqwa : Wasiat seluruh Nabi : 4 : 131 Dan sesungguhnya kami telah memerintahkan orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan kamu juga, untuk bertaqwa kepada Allah 26 : 10-11 Dan ingatlah ketika Tuhanmu menyeru Musa, "Datangilah kaum yang Zalim itu", Yaitu  kaum Fir'aun, mengapa mereka tidak bertaqwa ? 26 : 123-124 Kaum Aad telah mendustakan para Rasul, ketika saudara mereka, Hud berkata, "Mengapa kamu tidak bertaqwa?" 26 :141-142 Kaum Tsamud telah mendustakan para Rasul, ketika saudara mereka, Saleh berkata, " Mangapa kamu tidak bertaqwa ?" 26 : 160-161 Kaum Luth telah mendustakan para Rasul, ketika saudara mereka, Luth berkata, " Mengapa kamu tidak bertaqwa?" 26 :176-177 Kaum Aikah telah mendustakan para Rasul, ketika saudara mereka, Syu'aib berkata, " Mangapa kamu tidak bertaqwa ?" 37 : 123-124 2 : 21, Wahai orang-orang yang beriman, sembahlah Tuhanmu yang menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa
Taqwa sebaik-baik bekal 49 : 73 Persiapkanlah bekal, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa 7 ; 26 Taqwa : keselamatan 27 :53 demikianlah telah kami selamatkan orang yang beriman dan mereka itu selalu bertaqwa
Yang diterima dari amal : taqwanya Daging-daging dan darah-darah unta itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi taqwamulah yang mencapainya Ciri-ciri TAQWA 2 : 2- 5 Itulah kitab yang tiada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang beriman kepada yang ghaib, dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rizkinya, dan orang-orang yang yang beriman kepada apa-apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad), dan kepada orang-orang sebelum kamu dan yaqin kepada hari akhir 2 :177 Bukanlah menghadapkan wajahmu ke barat dan ke timur itu suatu kebaikan. Melainkan kebaikan itu ialah barang siapa yang beriman kepada Allah , malaikat,   kitab, dan para Nabi, dan memberikan harta yang dicintai kepada kerbat dekat, anak-anak yatim, orang miskin, orang yang dalam perjalanan, dan memerdekakan budak, dan mendirikan salat, menunaikan zakat , dan menepati janji apabila berjanji, dan sabar baik dalam kesulitan,  penderitaan dan peperangan, yang demikan itulah yang benar, dan yang demikian itu lah orang-orang yang bertaqwa 3 : 133-135 dan bersegeralah kepada ampunan Tuhanmu dan surga   seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa, Yaitu orang-orang  menginfaqkan rizkinya baik dalam kemudahan maupun kesusahan, yang menahan marahnya, dan memaafkan kepada manusia. Dan Allah menyukai orang yang berbuat baik Dan orang-orang yang apabila berbuat kekejian atau zalim kepada diri sendiri, maka ia segera ingat kepada Allah, dan beristighfar kepada Allah atas dosa-dosanya. Dan siapakah yang lebih mengampuni dosa selain Allah ? Kemudian dia tidak meneruskan perbuatannya, meskipun dia mengetahuinya 3 : 15-17 Untuk orang-orang yang bertaqwa pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dan ada istri yang suci serta keridaan Allah. dan Allah Maha Melihat hamba-hambanya. Yaitu orang yang berdoa, " ya Tuhan kami, sesunguhnya kami telah beriman, maka ampunilah kami dan peliharalah kami dari siksaan neraka" Dan orang orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) dan memohon ampun di waktu sahur 21 :48- 49 Dan sesungguhnya telah kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi orang yang bertaqwa, Yaitu orang yang takut akan azab Tuhan mereka sedang mereka tidak melihatnya dan mereka takut akan tibanya hari kiamat 51:15-19 sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam taman-taman dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan mereka di akhir-akhir malam mohon ampun kepada Allah Anugerah bagi Orang Taqwa 8 : 29 Hai  orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberi kamu furqon (petunjuk membedakan baik dan buruk), dan menghapus kesalahan-kesalahan kamu dan menghapus dosa-dosamu 65 : 2-3 Barang siapa bertaqwa kepada Allah, nisaya Allah memberikan  kepada mereka jalan keluar (atas segala persoalan), dan diberi rizki dari tempat yang tidak terduga 65 :4 Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusan 65 :5 Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan melipat gandakan pahala baginya 7 ; 96 Jika seandainya penduduk suatu negeri Iman dan taqwa, pastilah Kami akan melipatgandakan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,
Keagungan Taqwa “Barangsiapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yg tiada disangka-sangkanya.” . Para ulama telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan takwa. Imam ar-Raghib al-Ashfahani mendefinisikan “Takwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yg membuatnya berdosa dan itu dgn meninggalkan apa yg dilarang menjadi sempurna dgn meninggalkan sebagian yg dihalalkan.” Imam an-Nawawi mendefinisikan takwa dgn “menaati perintah dan larangan-Nya.” Maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan azab Allah. Hal itu sebagaimana didefinisikan oleh Imam al-Jurjani “Taqwa yaitu menjaga diri dari pekerjaan yg mengakibatkan siksa baik dgn melakukan perbuatan atau meninggalkannya.” Karena itu siapa yg tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa berarti dia bukanlah orang bertakwa. Maka orang yg melihat dgn kedua matanya apa yg diharamkan Allah atau mendengarkan dgn kedua telinganya apa yg dimurkai Allah atau mengambil dgn kedua tangannya apa yg tidak diridhai Allah atau berjalan ke tempat yg dikutuk oleh Allah berarti tidak menjaga dirinya dari dosa. Jadi orang yg membangkang perintah Allah serta melakukan apa yg dilarang-Nya dia bukanlah termasuk orang-orang yg bertakwa. Orang yg menceburkan diri ke dalam maksiat sehingga ia pantas mendapat murka dan siksa dari Allah maka ia telah mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yg bertakwa. Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan “Maknanya barangsiapa yg bertaqwa kepada Allah dgn melakukan apa yg diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yg dilarang-Nya niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rezeki dari arah yg tidak disangka-sangka yakni dari arah yg tidak pernah terlintas dalam benaknya.” Alangkah agung dan besar buah taqwa itu! Abdullah bin Mas’ud berkata “Sesungguhnya ayat terbesar dalam hal pemberian janji jalan keluar adalah “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya.” “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi tetapi mereka mendustakan itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri.” . Dalam ayat yg mulia ini Allah menjelaskan seandainya penduduk negeri-negeri merealisasikan dua hal yakni iman dan takwa niscaya Allah akan melapangkan kebaikan utk mereka dan memudahkan mereka mendapatkannya dari segala arah. “Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan Taurat Injil dan yg diturunkan kepada mereka dari Tuhannya niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yg dikerjakan oleh kebanyakan mereka.” . Allah mengabarkan tentang ahli kitab ‘Bahwa seandainya mereka mengamalkan apa yg ada di dalam Taurat Injil pada dan Alquran demikian seperti dikatakan oleh Abdullah bin Abbas dalam menafsirkan ayat tersebut niscaya Allah memperbanyak rezeki yg diturunkan kepada mereka dari langit dan yg tumbuh utk mereka dari bumi. Syekh Yahya bin Umar al-Andalusi berkata “Allah menghendaki wallahu a’lam bahwa seandainya mereka mengamalkan apa yg diturunkan di dalam Taurat Injil dan Alquran niscaya mereka memakan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Maknanya wallahu’alam niscaya mereka diberi kelapangan dan kesempurnaan ni’mat dunia” Dalam menafsirkan ayat ini Imam al-Qurthubi mengatakan “Dan sejenis dgn ayat ini adl firman Allah “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yg tidak disangka-sangkanya.” . “Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan di atas jalan itu benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yg segar .” . “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi.” . Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas Allah menjadikan ketakwaan di antara sebab-sebab rezeki dan menjanjikan utk menambahnya bagi orang yg bersyukur. Allah berfirman “Jika kalian bersyukur niscaya Aku tambahkan ni’mat-Ku atasmu.” . Oleh krn itu tiap orang yg menginginkan keluasan rezeki dan kemakmuran hidup hendaknya ia menjaga dirinya dari segala dosa. Hendaknya ia menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Juga hendaknya ia menjaga diri dari yg menyebabkan berhak mendapat siksa seperti melakukan kemungkaran atau meninggalkan kebaikan. Sumber Diadaptasi dari Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah Dr.Fadhl Ilahi Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Taqwa : Mutiara Penuh Pesona Surat Ali’Imran Ayat 133: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu (Allah SWT) dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang taqwa (muttaqin).
Allah SWT menguraikan tanda-tanda orang yang taqwa, dalam Surat Ali’Imran Ayat 134:
(yaitu) Orang-orang yang berinfaq (karena Allah SWT), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mereka yang pemaaf terhadap (kesalahan) manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Marilah terlebih dahulu kita coba memahami apakah itu Taqwa. Taqwa memiliki tiga tingkatan.
Pertama : Ketika seseorang melepaskan diri dari kekafiran dan mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah, dia disebut orang yang taqwa. Di dalam pengertian ini semua orang beriman tergolong taqwa meskipun mereka masih terlibat beberapa dosa.
Kedua : Jika seseorang menjauhi segala hal yang tidak disukai Allah SWT dan RasulNya (SAW), ia memiliki tingkat taqwa yang lebih tinggi.
Ketiga : orang yang setiap saat selalu berupaya menggapai cinta Allah SWT, ia memiliki tingkat taqwa yang lebih tinggi lagi.
Allah SWT menjelaskan dalam Surat Ali’Imran Ayat 102: Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim (beragama Islam)
Allah SWT telah menjabarkan berbagai ciri-ciri orang yang benar-benar taqwa. Mereka menafkahkan rizkinya di jalan Allah SWT dalam keadaan lapang maupun sempit. Menafkahkan rizki di jalan Allah SWT adalah jalan-hidup mereka. Allah SWT (atas kehendakNya) menjauhkan mereka dari kesulitan (bala’) kehidupan lantaran kebajikan yang mereka perbuat ini.
Lebih dari itu, seseorang yang suka menolong orang lain tidak akan mengambil atau memakan harta orang lain, malahan ia lebih suka berbuat kebaikan bagi sesamanya. ‘Aisyah RA sekali waktu pernah menginfaqkan sebutir anggur karena pada waktu itu ia tidak memiliki apa-apa lagi. Beberapa muhsinin (orang yang selalu berbuat baik) menginfaqkan sebutir bawang. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Selamatkanlah dirimu dari api nereka dengan berinfaq, meskipun hanya dengan sebutir kurma. (Bukhari & Muslim)
Di dalam “Tafsir Kabir” Imam Razi diceritakan bahwa suatu kali Nabi Muhammad SAW mengajak umatnya untuk berinfaq. Beberapa dari mereka memberikan emas dan perak. Seseorang datang hanya menyerahkan kulit kurma, “Saya tak memiliki selain ini.” Seorang lain lagi mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW, “Saya tak punya apapun untuk diinfaqkan. Saya infaqkan harga-diri saya. Jika ada seseorang menganiaya atau mencaci-maki saya, saya tidak akan marah.” Demikianlah, kita dapat mengambil pelajaran bahkan orang miskin pun terbiasa memberikan apapun yang dia miliki untuk menolong orang lain pada masa hidup Rasulullah SAW.
Ayat di atas tidak menjelaskan apa yang harus diinfaqkan. Berinfaq tidak hanya berarti sebagian dari hartanya tetapi juga waktu dan keahlian. Ada kebijaksanaan yang besar dalam penjabaran mengenai mukmin yang shaleh yang berinfaq dikala lapang maupun sempit. Kebanyakan orang melupakan Allah SWT ketika berada dalam keadaan sangat lapang. Mereka juga lupa kepada Allah SWT dikala sempit karena terlalu larut dalam kesedihan menanggung kesempitannya.
Awal surat Al Baqarah memberikan petunjuk bagi kita tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa. Salah satu di antaranya adalah  mereka yang menafkahkan Rizqi yang dianugerahkan kepadanya di jalan Alloh. "Alif Laam Miim.Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka," (QS Al Baqarah 2:1-3)
Sedangkan ganjaran pahala bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh akan dilipat gandakan sebagaimana disebutkan pada ayat berikut. "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS Al Baqarah 2:261)
Lalu bagaimana cara menafkah harta sesuai tuntunan Alloh dan Rasul-Nya ? Secara global Al Qur'an menerangkan sebagai berikut. "Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya." (QS Al Baqarah 2:215)
Secara lebih detil Rasululloh SAW Sang Uswatun Hasanah memberikan petunjuk sebagai berikut. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. menceritakan seorang petani yang  diberkahi usaha dan hartanya, dan dia bersabda; “……., maka sesungguhnya aku  memperhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini, lalu aku (1) bersedekah dengan 1/3  (sepertiganya), dan aku (2) makan beserta keluargaku (biaya konsumsi) 1/3 (sepertiganya) lagi,  kemudian aku (3) kembalikan (untuk menanam lagi) 1/3 (sepertiganya).”  hadis No. 2984 Kitab Sahih Imam Muslim; Zuhud & Kelembutan Hati, Bab Sedekah terhadap orang-orang miskin, yang dimasukkan sebagai hadis ke 19 dalam kitab Riyadus Shalihin Bab 60 tentang Kedermawanan oleh Imam Nawawi.
Nabi Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bersedekahlah kamu! Seorang laki-laki bertanya : Saya punya satu dinar. Nabi bersabda: Sedeqahkanlah itu untuk dirimu sendiri. Laki-laki itu berkata: Saya punya satu dinar lagi, Nabi bersabda: Sedeqahkanlah untuk istrimu. Padaku masih ada satu dinar lagi: Nabi bersabda: Sedeqahkanlah untuk anak-anakmu. Padaku masih ada satu dinar lagi: Nabi bersabda: Sedeqahkanlah untuk pembantumu. Padaku masih ada satu dinar lagi, Nabi bersabda: Kamu mengetahui dengannya ” [HR Abu Dawud, Nasa'i dan Imam Hakim menshahihkannya. Lihat: Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq bab Shadaqah Tathawu']
Dari keterangan-keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam menafkahkan rizqi berupa harta kita hendaknya mengikuti proporsi yang telah disampaikan oleh Rasululloh yaitu. - 1/3 bagian untuk modal kerja. - 1/3 bagian untuk nafkah konsumsi pribadi/keluarga. Pos ini termasuk di dalamnya ada komponen orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. - 1/3 bagian untuk sedeqah. Pos ini secara lebih detil bisa dibagi lagi menjadi.   - 1/5 untuk diri sendiri   - 1/5 untuk istri   - 1/5 untuk anak-anak   - 1/5 untuk orang-orang yang membantu kita   - 1/5 untuk lain-lain
Petunjuk proporsi cara menafkahkan rizqi tersebut, kalau kita lihat ternyata tidak hanya berlaku bagi rizqi berupa harta saja, namun bisa rizqi berupa apa saja, misal umur, waktu, ilmu, kasih sayang dan sebagainya. Sebagai ilustrasi saja, bisa benar bisa salah, wa Allohu 'alam.. Rizqi Umur. Umur Rasululloh adalah 63 tahun, kalau kita lihat berdasarkan proporsi di atas, terlihat periode 1/3 bagian (1-20 tahun) bisa dikatakan sebagai perode pengumpulan modal, 1/3 bagian (20-40) bisa dikatakan sebagai periode konsumsi keluarga, 1/3 bagian (40-63) sebagai periode sedeqah. Bagaimanakah dengan umur kita? Rizqi Waktu. Waktu kita dalam sehari 24 jam, kalau dibagi berdasarkan proporsi di atas, 1/3 bagian (8 jam) untuk modal kerja, 8 jam untuk konsumsi keluarga, dan 8 jam untuk sedeqah untuk pemberdayaan. Rizqi Ilmu, Di dalamnya ada 1/3 bagian ilmu untuk modal menambah ilmu lagi, 1/3 bagian ilmu untuk dimanfaatkan bagi kebaikan diri, 1/3 bagian ilmu untuk disedeqahkan dengan dakwah Rizqi kasih sayang, 1/3 bagian untuk meningkatkan kasih sayang Alloh kepada kita, 1/3 bagian untuk dinikmati dan disyukuri, 1/3 bagian untuk disedeqahkan dengan silaturahim.
Bahkan dalam bisnis, misal perdagangan juga mengikuti proporsi ini, dalam komponen harga suatu barang akan meliputi 1/3 bagian adalah ongkos produksi (modal), 1/3 bagian adalah keuntungan produsen (konsumsi), 1/3 bagian adalah keuntungan distributor (sedeqah).
Subhanalloh, sungguh Alloh benar-benar telah memberikan tuntunan yang demikian sempurna bagi kita untuk dapat mengemban amanah khalifah fil ard. Dapat disimpulkan bahwa dalam setiap rizqi yang kita terima dari Alloh, pasti ada dimensi hak-hak orang lain di dalamnya. Mudah-mudahan kita dapat mengemban seluruh amanah Rizqi dalam bentuk apapun yang dititipkan kepada kita ini dengan baik, sehingga tidak ada satupun hak-hak orang lain yang tidak terpenuhi karena kelalaian kita. Karena bagaimanapun itu akan menjadi hutang kita, yang pasti akan ditagih di akhirat kelak.
Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kalian tahu siapa orang yang mengalami kebangkrutan (muflis) itu?” Para sahabat yang ditanya menjawab, “Orang yang bangkrut itu adalah yang tidak memiliki uang dan kekayaan”. Rasulullah menanggapi, “Seorang yang muflis dari umatku ialah yang mempunyai simpanan pahala salat, puasa, dan zakat namun ia telah menghina seseorang, memberi tuduhan kepada orang lain, mengambil harta bukan miliknya pernah membunuh, dan memukul si ini dan itu. Ia akan disidangkan di hadapan peradilan Allah, dan diberi hukuman sepadan dengan kesalahannya, yang mengurangi kebiujakan-kebijakannya. Apabila kebajikan-kebajikannya dikurangi sampai habis sebelum dapat menutup dan melunasi kesalahan-kesalahan yang ia lakukan, kesalahan-kesalahan orang lain ditimpakan kepadanya, sehingga ia dimasukan ke neraka”. Tirmidzi berkata, “Hadits ini termasuk hasan sahih”.
Dari dia juga diriwayatkan bahwa Rasulullah telah bersabda, “Allah memberikan rahmat-Nya kepada seseorang, yang dulu dianiaya kehormatannya dan hartanya diambil secara tidak sah oleh orang lain. Orang yang menganiaya dirinya datang kepadanya untuk minta maaf sebelum diambil --yakni bukan uang atau kekayaan, melainkan pahala kebajikan-kebajikannya darinya kepada si teraniaya. Jika kebaikan-kebaikan yang ada padanya telah habis, dosa-dosa si teraniaya itu ditimpakan kepadanya”. Tirmidzi berkata, “Riwayat ini termasuk hadits hasan sahih”.
Dari Abu Hurairah juga, bahwa Rasulullah SAW memperingatkan, “Pada hari kiamat, hak-hak seseorang pasti akan ditunaikan, sampai-sampai peradilan domba yang tidak bertanduk yang mendapat yang mendapat kesusahan dari domba yang bertanduk. Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits-hadits Hasan Sahih. (Lihat: Jami’al-Tirmidzi, juz vii, halaman 98 hadits no: 1049 (Tuhfat al-Ahwa))
Inilah yang menyebabkan para sahabat ketakutan dan menangis waktu ditunjuk menjadi pemimpin/amir, karena terbayang betapa besarnya tanggung jawabnya, terbayang betapa banyaknya orang-orang yang berhak atas dirinya. Seandainya dia tidak bisa menunaikan hak-hak orang-orang tersebut, betapa besar hutang yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh kelak.
Allah SWT menyatakan bahwa tanda ketaqwaan mukmin yang ke-dua ialah mereka dapat mengendalikan amarah. Tanda ke-tiga, selain mengendalikan amarah mereka juga memaafkan kesalahan orang lain dengan sepenuh hati. Terakhir (ke-empat), yang tidak kalah pentingnya, mereka bersikap baik terhadap sesama manusia.
Memaafkan orang lain akan mendapatkan pahala yang besar di Hari Pembalasan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah SWT akan memberikan pengumuman di Hari Pembalasan, barang siapa yang memiliki hak atas Allah SWT agar berdiri sekarang. Pada saat itu berdirilah orang-orang yang memaafkan orang-orang kejam yang menganiaya mereka.
Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Barang siapa berharap mendapatkan istana yang megah di surga dan berada di tingkatan yang tinggi dari surga, hendaknya mereka mengerjakan hal berikut ini: 1.Memaafkan orang-orang yang berbuat aniaya kepada mereka. 2.Memberi hadiah kepada orang yang tidak pernah memberi hadiah kepada mereka. 3.Jangan menghindari pertemuan dengan orang-orang yang dengan sengaja memutuskan hubungan dengan mereka.
Dalam kesempatan ini kita saling mengingatkan agar sesama Muslim hendaknya saling memberi hadiah sesering mungkin sesuka mereka. Hal ini hendaklah menjadi kebiasaan, dan janganlah membatasi di hari-hari spesial sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang tidak beriman pada perayaan tertentu atau moment tertentu.
Allah SWT memberi petunjuk dengan sangat indah bagaimana hendaknya kita berperilaku terhadap musuh-musuh kita yang paling jahat dalam Surat Fushshilat : 34
Tidaklah sama perbuatan baik dengan perbuatan jahat. Jika kamu membalas perbuatan jahat dengan kebaikan, maka musuh-musuhmu yang paling keras akan menjadi teman karib dan sejawatmu.
Teladan mulia yang dapat kita ambil dari ulama besar, di mana ada seseorang berbuat kasar dan mencaci-maki Imam Abu Hanifah. Dia tidak membalas dengan sepatah-katapun padanya. Ia pulang ke rumah dan mengumpulkan beberapa hadiah, lalu pergi mengunjungi orang tersebut. Dia memberikan hadiah-hadiah itu kepadanya dan berterimakasih atas perlakuan orang itu kepadanya seraya berkata: “Kamu telah berbuat untukku hal yang sangat aku sukai, yaitu memindahkan catatan perbuatan baikmu menjadi catatan perbuatan baikku dengan cara berlaku kasar seperti tadi kepadaku.”
Lebih lanjut Allah SWT berfirman di dalam Surat Ali’Imran Ayat 135 dan 136, menambahkan tanda-tanda ketaqwaan orang-orang beriman.
Ketika mereka (orang-orang beriman) itu terlanjur berbuat maksiat, jahat dan aniaya, mereka ingat kepada Allah dan memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Allah. Dan mereka tidak tetap berbuat aniaya ketika mereka mengetahui. Untuk mereka balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka, dan surga yang mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pahala atas amal-perbuatan mereka.
Perhatikanlah bahwa dalam ayat ini ampunan Allah SWT mendahului balasan masuk surga. Maka, dari ayat ini jelaslah bahwa untuk masuk surga haruslah melalui ampunan dan rahmat atau kasih-sayang Allah SWT dan bukan tergantung pada amal-perbuatan kita saja. Untuk mendapat ampunan Allah hendaklah banyak membaca Sayyidul Istighfar
Perlu juga kita garis-bawahi, Allah SWT berfirman bahwa bobot surga itu jauh lebih berharga dari gabungan bumi dan seluruh langit. Hal ini bisa memberikan pengertian lain dari ayat ini. Jika lebar surga sama dengan lebar langit dan bumi, bagaimanakah dengan panjangnya, sedangkan ukuran panjang selalu lebih besar daripada lebar. Singkat kata, ayat ini memberikan pernyataan bahwa surga itu telah dipersiapkan bagi orang-orang beriman yang telah mencapai tingkat taqwa.
Menurut beberapa ulama muslim yang termasyhur, surga itu berada di atas langit ke-tujuh dan jiwa para syuhada telah menikmati surga sebagai hasil dari perjuangan mereka.

Taqwa merupakan tujuan tertinggi yang akan dicapai seorang insan dalam menjalankan ibadahnya kepada Allah SWT. Dalam Al-Qur’an Allah SWT mengatakan:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”

Oleh karena itulah, Allah senantiasa menggandeng kata taqwa dengan kewajiban-kewajiban tertentu dalam ibadah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”


Karena taqwa memang tidak dapat dipisahkan dengan keimanan. Justru ketaqwaan itu merupakan buah dari adanya keimanan yang mendalam dan besar kepada Allah SWT. Syeikh Dr. Abdullah Nasih Ulwan (1996:6-7) mengemukakan bahwa “taqwa lahir sebagai konsekwensi logis dari keimanan yang kokoh, keimanan yang selalu dipupuk dengan muraqabatullah; merasa takut terhadap murka dan adzab-Nya dan selalu berharap atas limpahan karunia dan maghfirah-Nya.” Dari sini dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa tidak mungkin ketaqwaan muncul tanpa adanya keimanan yang tinggi kepada Allah.
Jika kita perhatikan dalam Al-Qur’an maupun Sunnah, akan kita jumpai betapa taqwa sangat besar diperhatikan. Bahkan hampir di setiap halaman Al-Qur’an akan kita jumpai kata taqwa. Oleh karena itulah, para salafuna saleh yang sangat memperhatikan benar permasalahan taqwa ini. Mereka senantiasa mencari hakekatnya, saling bertanya satu sama lain dan berusaha untuk mendapatkannya.

Definisi Taqwa
Dari segi bahasa, taqwa berasala dari kata “waqo”, yang berarti ‘penjagaan/ perlindungan, kewaspadaan dan penjauhan diri insan dari hal-hal yang merusaknya:
التقوى من وقي بمعنى الصيانة والحذر وتجنب الإنسان لما يؤذيه
Seorang yang bertaqwa adalah seseorang yang menjaga dan melindungi dirinya dari sesuatu yang merusaknya, kemudian juga waspada serta menjauhi hal-hal yang demikian itu.

Adapun dari segi istilahnya, para ulama memberikan beberapa definisi, yang satu dengan yang lainnya saling melengkapi:

1. Menurut Syekh Ibrahim bin Adham:
التقوى: ألا يجد الخلق في لسانك عيبا، ولا الملائكة في أفعالك عيبا، ولا ملك العرش في سرك عيبا
“Taqwa adalah, “bahwa seluruh makhluk tidak mendapatkan kecelaan pada lisanmu, malaikat tidak menemukan keburukan pada perbuatanmu dan Allah tidak mengetahui kejelekan pada hal-halmu yang tidak diketahui orang lain.”

2. Menurut Imam Hasan al-Bashri:
المتقون: هم الذين اتقوا ما حرم الله عليهم وأدوا ما افترض عليهم
“Orang-orang yang bertaqwa adalah: orang-orang yang menjaga diri dari apa yang Allah haramkan dan mengerjakan apa yang Allah perintahkan kepada mereka.”

3. Menurut Imam al-Alusi:
التقوى شرعا : صيانة المرء نفسه عما يضره في الآخرة
“Taqwa adalah penjagaan diri seorang insan terhadap hal-hal yang dapat mencelakakannya di akhirat.”

Dari beberapa definisi di atas dapat di simpulkan bahwa taqwa adalah “menjauhkan diri dari kemurkaan, azab, teguran dan ancaman Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya serta menjauhi hal-hal yang dapat mengarahkannya pada larangan-larangan Allah SWT."

Pernah suatu ketika Umar bin Khattab bertanya kepada Ubai bin Ka’ab tentang taqwa. Ubai menjawab, ‘Bukankah anda pernah melewati jalan yang penuh duri?’ Umar menjawab, ‘ya!’. Ubai bertanya lagi, ‘Apa yang anda lakukan saat itu?’ Umar menjawab, ‘ Saya bersiap-siap dan berjalan dengan hati-hati.’ Ubai berkata lagi, ‘Itulah taqwa.”

Berpijak dari jawaban Ubai di atas, Utz Sayid Qutub mengemukakan, ‘Itulah taqwa, kepekaan batin, kelembutan perasaan, rasa takut terus menerus, selalu waspada dan hati-hati jangan sampai kena duri jalanan… Jalan kehidupan yang selalu ditaburi duri-duri godaan dan syahwat, kerakusan dan angan-angan, kekhawatiran dan keraguan, haparan semu atas segala sesuatu yang tidak bisa diharapkan. Ketakutan palsu dari sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti… dan masih banyak duri-duri yang lainnya….”

Taqwa Merupakan Perintah Allah SWT
Dalam Al-Qur’an banyak sekali dijumpai ayat-ayat yang mewajibkan seseorang untuk bertaqwa kepada Allah SWT. Perintah-perintah tersebut menunjukkan kepada kita mengenai wajibnya bertaqwa. Diatara ayat-ayat tersebut adalah:
1. QS. 2 : 189
وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”

2. QS. 2 : 194
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“Bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah itu bersama orang-orang yang bertaqwa.”

3. QS. 2 : 196
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Bertakwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah itu Maha Dahsyat azab-Nya.”

4. QS. 2 : 203
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kepada-Nyalah kalian (kelak) akan dikumpulkan.”

5. Dalam hadits, Rasulullah SAW mengatakan:
عَنْ أَبِى أُمَامَةَ يَقُولُ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَقَالَ اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ
Dari Abi Amamah ra, aku mendengar Rasulullah SAW berkhutbah para waktu haji wada’. Beliau berkata, ‘Bertaqwalah kalian pada Rab kalian, shalatlah kalian lima waktu, puasalah kalian pada bulan ramadhan, tunaikanlah zakat mal kalian dan taatilah pemimipin kalian, niscaya kalian akan memasuki surga Rab kalian. (HR. Tirmidzi)

6. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ
تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Dari Abu Dzar ra, Rasulullah SAW mengatakan kepadaku, ‘bertaqwalah engkau dimanapun engkau berada. Dan barengilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik sebagai penghapusnya, dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Tirmidzi)

7. Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda
قَالَ يَزِيدُ بْنُ سَلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ سَمِعْتُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَخَافُ أَنْ يُنْسِيَنِي أَوَّلَهُ آخِرُهُ فَحَدِّثْنِي
بِكَلِمَةٍ تَكُونُ جِمَاعًا قَالَ اتَّقِ اللَّهَ فِيمَا تَعْلَمُ
Yazid bin Salamah berkata, Wahai Rasulullah SAW, ‘aku sungguh telah mendengar banyak hadits darimu, dan aku khawatir hadits-hadits yang terakhir membuat hadits-hadits yang awal menjadi terlupa. Oleh karena itu ajarkanlah suatu kalimat yang mencakup keseluruhan padaku Wahai Rasulullah SAW.’ Beliau menjawb, ‘Bertaqwalah kamu kepada Allah terhadap hal-hal yang telah kamu ketahui.”


Tingkatan - Tingkatan Taqwa
Ketaqwaan memiliki beberapa tingkatan, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ulama. Al-Alamah Abu Su’ud membaginya menjadi tiga tingkatan; takwa dari kekufuran, takwa dari perbuatan dosa dan takwa dari hal-hal kecil yang memalingkan kita dari Allah SWT. Imam Al-Fakihani juga membagi takwa menjadi tiga, yaitu takwa dari syirik, takwa dari bid’ah dan takwa dari perbuatan maksiat. Kemudian para imam-imam yang lain juga membagi takwa dengan beberapa tingkatan, yang pada intinya menunjukkan bahwa takwa itu tidak satu derajat. Dan dari pembagian para ulama tadi dapat kita simpulkan mengenai tingkatan ketaqwaan sebagai berikut:

1. (تقوى الكفر والشرك) Takwa dari kekufuran dan kesyirikan.
Yaitu sebuah sikap yang benar-benar menjauhkan diri dari hal-hal yang berbau kekufuran dan kemusyrikan hingga sampai pada hal yang sekecil-kecilnya, untuk kemudian mengimplementasikan pengesaan Allah dalam masalah keuluhiyahan , kerububiyahan dengan merealisasikan ibadah hanya kepada-Nya. Allah swt berfirman dalam Al-qur’an:
هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ
Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nyadan berhak memberi ampun.

Mengenai ayat ini, dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Rasulullah SAW membaca ayat ini, kemudian berkata, ‘Allah SWT berkata; Aku adalah Dzat yang patut ditaqwai. Dan barang siapa yang tidak menjadikan tuhan lain bersama-Ku, maka aku berhak untuk mengampuninya.’ (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimi). Takwa dari kekufuran dan kesyirikan ini merupakan pangkal dari segala bentuk ketaqwaan. Karena dengan taqwa dari kekufuran dan kemusyrikan inilah seseorang dapat memiliki aqidah yang benar dan keimanan yang mengakar dalam jiwa. Sementara kedua hal ini merupakan satu-satunya penopang bagi insan untuk dapat menjauhi larangan-larangan Allah dan mengerjakan segala perintah Allah dengah hati ikhlas, dan hanya mengharap ridha-Nya. Apalagi blia diingat bahwa tauhid merupakan pondasi keimanan bagi setiap muslim, yang akan menentukan roboh tidaknya suatu bangunan keimanan.

2. (تقوى المحرمات) Takwa dari hal-hal yang diharamkan Allah. 
Yaitu taqwa dengan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat yang diharamkan Allah SWT. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَلاَ تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda; ‘Bertakwalah kalian terhadap hal-hal yang diharamkan Allah, niscaya engkau akan menjadi hamba yang paling baik. Dan ridhalah terhadap apa yang Allah berikan pada kalian, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya. Dan berbuat baiklah kalian terhadap tetangga kalian, niscaya engkan akan menjadi orang mukmin. Cintailah manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya engkau akan menjadi muslim. Dan janganlah kalian memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa itu akan mematikan hati. (HR. Tirmidzi)

Di sini setiap muslim dituntut untuk berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan kepada Allah SWT, baik yang dzahir (yang terlihat) maupun yang batin (yang tidak terlihat). Karena kemaksiatan merupakan ciri dari tidak adanya ketaqwaan kepada Allah SWT.

3. (تقوى الشبهات) Takwa dari hal-hal syubhat. 
Yaitu menjauhkan diri dari hal-hal yang ‘samar’ antara halal dan haram. Dan sebagian besar manusia tidak mengetahui hukumnya secara pasti kehalalan atau keharamannya. Oleh karena itulah, seorang yang bertakwa hendaknya menghindarkan diri dari hal-hal seperti ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
Dari Nu’man bin Bassyir, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Halal itu jelas dan haram itu juga jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat) yang tidak diketehui oleh kebanyakan manusia. Barang siapa yang bertakwa menjauhkan diri dari hal-hal syubhat tersebut maka ia berarti telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam kesyubhatan, maka ia seumpama pengembala yang mengembalakan ternaknya di sekitar tempat yang terlarang, yang hampir-hampir ia menjerumuskan ternaknya ke tempat tersebut. Ketahuilah, bahwa pada setiap raja memiliki tempat-tempat larangan. Maka ketahuilah bahwa larangan Allah di bumi ini adalah hal-hal yang diharamkan. Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia terdapat segumpal darah, yang apabila ia baik, maka baik pulalah seluruh jasadnya, dan apabila ia buruk, maka buruk pulalan seluruh jasadnya. Kethuilah bahwa sesuatu itu adalah hati. (HR. Bukhari)

4. (اتقاء ما لا بأس به من المباحات مخافة الوقوع في المكروهات أو المباحات) Takwa dari hal-hal yang tidak ada apa-apanya, karena takut terjerumus dalam kemakruhan dan syubhat. 
Atau dengan bahasa lain, meninggalkan sesuatu yang tidak ada apa-apanya, karena khawatir ada apa-apanya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengatakan:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لاَ بَأْسَ بِهِ
حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ
Rasulullah SAW bersabda, ‘seorang hamba tidak akan mencapai derajat taqwa, hingga ia meninggalkan sesuatu yang tidak apa-apanya, karena khawatir ada apa-apanya.(HR. Tirmidzi)

Hal ini seperti umpamanya banyak ngobrol, sering jajan makanan, banyak tertawa, memakai pakaian yang bagus-bagus, tidak berlebihan dalam masalah halal dan lain sebagainya. Karena ia khawatir bahwa hal tersebuy akan menjerumuskannya pada kemakhruhan atau hal-hal syubhat.

5. (تقوى الله حق تقاته) Taqwallah haqa tuqatih (taqwa dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya). 
Dan hal ini sebenarnya merupakan perintah Allah SWT terhadap seluruh hamba-hamba-Nya. Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan taqwa yang sebenar-benarnya. Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan islam (menyerahkan diri)” (QS. 3: 102)

Mengenai taqwa yang sebenar-benarnya ini, ibnu Abbas pernah mengatakan:
حق تقاته أن يجاهدوا في سبيله حق جهاده ولا تأخذهم في الله لومة لائم، ويقوموا بالقسط
ولو على أنفسهم وآباءهم وأبناءهم
“Taqwa yang sebenar-benarnya adalah bahwa seseorang itu berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, dan tidak (mengambil peduli) terhadap orang-orang yang mencela mereka di jalan Allah, dan menegakkan keadilan meskipun terhadap dirimereka sendiri, orang tua mereka atau anak-anak mereka.”

Taqwa dengan yang sebenar-benarnya ini, adalah gabungan dari seluruh ketaqwaan yang ada di atas. Dia juga termasuk takwa teradap kekufuran dan kesyirikan, takwa terhadap hal-hal yang diharamkan Allah SWT, takwa terhadap syubhat dan takwa terhadap hal-hal yang tidak ada apa-apanya karena khawatir terjerumus pada hal-hal kemakruhan dan syubhat.

Benefit Ketakwaan Kepada Allah 
Orang yang bertaqwa akan mendapatkan banyak sekali ganjaran dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Diantaranya adalah:

1. Mendapatkan pujian dan sanjungan dari Allah SWT.
Hal ini terlihat jelas manakala kita membuka-buka lembaran-lembaran kitab suci Al-Qur’an, disana banyak sekali pujian yang Allah berikan pada orang yang bertaqwa. Diantaranya adalah: a. Dalam awal surat al-Baqarah, ketika Allah menyebutkan ciri-ciri orang yang bertakwa… Allah menutupnya dengan ungkapan yang sangat halus dan manis, “mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Rab mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. 2 : 1-5)
b. Allah memuji ketaqwaan sebagai suatu urusan yang patut diutamakan. Allah mengatakan dalam QS. 3 : 186:
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ
Dan jika kalian bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu merupakan termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS. 3 : 186)

2. Mendapatkan dukungan, pertolongan, penjagaan dan pemeliharaan Allah dari makar para musuh-musuh Allah.
Allah SWT berfirman dalam QS. 16: 127 – 128):
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللَّهِ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَ تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ(127)إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ - 128
Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

Kemudian dalam ayat lain Allah mengatakan, bahwa jika kalian menolong Allah maka Allah akan menolong kalian (QS. 47: 7). Dan menolong Allah itu merupakan slah satu bentuk ketakwaan kepada Allah SWT. Kemudian juga dalam surat Ali Imran (QS. 3 : 120) , Allah SWT mengatakan:
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
dan jika kalian bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendaangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang mereka lakukan.

3. Mendapatkan cinta Allah.
Hal ini digambarkan dalam surat Ali Imran (QS. 3: 76)
بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.

4. Islahul Amal (memperbaiki amalan)
Mengenai hal ini Allah SWT mengatakan dalam QS. 33 : 70-71
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا*
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

5. Diampuni dosa dan kesalahan
Orang yang bertaqwa akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT, sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. 33 : 70 – 71 diatas. Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 65: 5)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا
Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.

6. Mendapatkan furqan, antara haq dan bathil
Ketaqwaan akan mendatangkan furqan bagi seseorang untuk dapat membedakan antara haq dan bathil. Allah SWT mengatakan dalam QS. Al-Anfal (8 : 29)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

7. Mendapatkan kabar gembira baik di dunia maupun di akhirat.
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ(62)الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ(63)لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.

8. Melapangkan rizki, memudahkan kesulitan dan mendapatkan berkah dari langit dan bumi.
Hal ini Allah gambarkan dalam Al-Qur’an, (QS. 65 : 2-3)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا(2)وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan pada mereka jalan keluar, dan Allah akan memberikan rezeki yang tidak di sangka-sangka.

Kemudian dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 7 : 96)
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

9. Mendapatkan keselamatan dari azab kubur dan azab neraka
Allah berfirman dalam QS 19 : 72
ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا
Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.

10. Mendapatkan surga
Allah berfirman QS. 54 : 54-55
الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ* فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ 
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.


Inilah sekelumit hal mengenai ketaqwaan, yang sesungguhnya masih sangat luas dan panjang. Namun semoga kita semua dapat merealisasikan nilai-nilai ketaqwaan dalam diri kita dengan mengadakan pelatihan-pelatihan ruhiyah yang kita lakukan. Karena ketaqwaan akan diperoleh dengan proses yang panjang yang melibatkan fikriah, jasadiah, qolbiah, maliah, dan semua yang kita miliki bersama. Tanpa pengorbanan, ketaqwaan tidak akan pernah muncul, sebagaimana tanpa ketaqwaan manusia akan hancur.

5.   KARAKTER
Karakter atau watak adalah sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup. “Banyak orang tahu apa yang baik, berbicara mengenai kebaikan namun melakukan yang sebaliknya”
karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu. Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain, keduanya dapat disebut dengan kebiasaan. 

1.      Unsur dalam Pembentukan Karakter
·         Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran karena pikiran, yang di dalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya, merupakan pelopor segalanya.
·          Program ini kemudian membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikirnya yang bisa mempengaruhi perilakunya. Jika program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam. Hasilnya, perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilakunya membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan. Oleh karena itu, pikiran harus mendapatkan perhatian serius.

Tentang pikiran, Joseph Murphy mengatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat satu pikiran yang memiliki ciri yang berbeda. Untuk membedakan ciri tersebut, maka istilahnya dinamakan dengan pikiran sadar (conscious mind) atau pikiran objektif dan pikiran bawah sadar (subconscious mind) atau pikiran subjektif
·         Penjelasan Adi W. Gunawan mengenai fungsi dari pikiran sadar dan bawah sadar menarik untuk dikutip.

Pikiran sadar yang secara fisik terletak di bagian korteks otak bersifat logis dan analisis dengan memiliki pengaruh sebesar 12 % dari kemampuan otak. Sedangkan pikiran bawah sadar secara fisik terletak di medulla oblongata yang sudah terbentuk ketika masih di dalam kandungan. Karena itu, ketika bayi yang dilahirkan menangis, bayi tersebut akan tenang di dekapan ibunya karena dia sudah merasa tidak asing lagi dengan detak jantung ibunya. Pikiran bawah sadar bersifat netral dan sugestif.
·         Untuk memahami cara kerja pikiran, kita perlu tahu bahwa pikiran sadar (conscious) adalah pikiran objektif yang berhubungan dengan objek luar dengan menggunakan panca indra sebagai media dan sifat pikiran sadar ini adalah menalar. Sedangkan pikiran bawah sadar (subsconscious) adalah pikiran subjektif yang berisi emosi serta memori, bersifat irasional, tidak menalar, dan tidak dapat membantah. Kerja pikiran bawah sadar menjadi sangat optimal ketika kerja pikiran sadar semakin minimal.
·         Pikiran sadar dan bawah sadar terus berinteraksi. Pikiran bawah sadar akan menjalankan apa yang telah dikesankan kepadanya melalui sistem kepercayaan yang lahir dari hasil kesimpulan nalar dari pikiran sadar terhadap objek luar yang diamatinya. Karena, pikiran bawah sadar akan terus mengikuti kesan dari pikiran sadar, maka pikiran sadar diibaratkan seperti nahkoda sedangkan pikiran bawah sadar diibaratkan seperti awak kapal yang siap menjalankan perintah, terlepas perintah itu benar atau salah. Di sini, pikiran sadar bisa berperan sebagai penjaga untuk melindungi pikiran bawah sadar dari pengaruh objek luar.

Kita ambil sebuah contoh. Jika media masa memberitakan bahwa Indonesia semakin terpuruk, maka berita ini dapat membuat seseorang merasa depresi karena setelah mendengar dan melihat berita tersebut, dia menalar berdasarkan kepercayaan yang dipegang seperti berikut ini, “Kalau Indonesia terpuruk, rakyat jadi terpuruk. Saya adalah rakyat Indonesia, jadi ketika Indonesia terpuruk, maka saya juga terpuruk.” Dari sini, kesan yang diperoleh dari hasil penalaran di pikiran sadar adalah kesan ketidakberdayaan yang berakibat kepada rasa putus asa. Akhirnya rasa ketidakberdayaan tersebut akan memunculkan perilaku destruktif, bahkan bisa mendorong kepada tindak kejahatan seperti pencurian dengan beralasan untuk bisa bertahan hidup. Namun, melalui pikiran sadar pula, kepercayaan tersebut dapat dirubah untuk memberikan kesan berbeda dengan menambahkan contoh kalimat berikut ini, “...tapi aku punya banyak relasi orang-orang kaya yang siap membantuku.” Nah, cara berpikir semacam ini akan memberikan kesan keberdayaan sehingga kesan ini dapat memberikan harapan dan mampu meningkatkan rasa percaya diri.

Dengan memahami cara kerja pikiran tersebut, kita memahami bahwa pengendalian pikiran menjadi sangat penting. Dengan kemampuan kita dalam mengendalikan pikiran ke arah kebaikan, kita akan mudah mendapatkan apa yang kita inginkan, yaitu kebahagiaan. Sebaliknya, jika pikiran kita lepas kendali sehingga terfokus kepada keburukan dan kejahatan, maka kita akan terus mendapatkan penderitaan-penderitaan, disadari maupun tidak.

2.      Proses Pembentukan Karakter
Sebelum penulis melanjutkan pembahasan, mari kita kaji ilustrasi berikut ini.. Di dalam sebuah ruangan, terdapat seorang bayi, dan dua orang dewasa. Mereka duduk dalam posisi melingkar. Kemudian masuk satu orang lain yang membawa kotak besar berwarna putih ke arah mereka. Setelah meletakkan kotak tersebut di tengah-tengah mereka, orang tersebut langsung membuka tutupnya agar keluar isinya. Apa yang terjadi...? ternyata setelah dibuka, terlihat ada tiga ular kobra berwarna hitam dan besar yang keluar dari kotak tersebut. Langsung saja, salah seorang dari mereka lari ketakutan, sedangkan yang lainnya justru berani mendekat untuk memegang ular agar tidak membahayakan, dan, tentu saja, si bayi yang ada di dekatnya tetap tidak memperlihatkan respon apa-apa terhadap ular.

Nah, begitu juga dengan kehidupan manusia di dunia ini. Kita semua dihadapkan dengan permasalahan yang sama, yaitu kehidupan duniawi. Akan tetapi respon yang kita berikan terhadap permasalahan tersebut berbeda-beda. Di antara kita, ada yang hidup penuh semangat, sedangkan yang lainnya hidup penuh malas dan putus asa. Di antara kita juga ada yang hidup dengan keluarga yang damai dan tenang, sedangkan di antara kita juga ada yang hidup dengan kondisi keluarga yang berantakan. Di antara kita juga ada yang hidup dengan perasaan bahagia dan ceria, sedangkan yang lain hidup dengan penuh penderitaan dan keluhan. Padahal kita semua berangkat dari kondisi yang sama, yaitu kondisi ketika masih kecil yang penuh semangat, ceria, bahagia, dan tidak ada rasa takut atau pun rasa sedih.

Pertanyaannya yang ingin diajukan di sini adalah “Mengapa untuk permasalahan yang sama, yaitu kehidupan duniawi, kita mengambil respon yang berbeda-beda?” jawabannya dikarenakan oleh kesan yang berbeda dan kesan tersebut dihasilkan dari pola pikir dan kepercayaan yang berbeda mengenai objek tersebut. Untuk lebih jelas, berikut penjelasannya.

Secara alami, sejak lahir sampai berusia tiga tahun, atau mungkin hingga sekitar lima tahun, kemampuan menalar seorang anak belum tumbuh sehingga pikiran bawah sadar (subconscious mind) masih terbuka dan menerima apa saja informasi dan stimulus yang dimasukkan ke dalamnya tanpa ada penyeleksian, mulai dari orang tua dan lingkungan keluarga.


·         Dari mereka itulah, pondasi awal terbentuknya karakter sudah terbangun. Pondasi tersebut adalah kepercayaan tertentu dan konsep diri. Jika sejak kecil kedua orang tua selalu bertengkar lalu bercerai, maka seorang anak bisa mengambil kesimpulan sendiri bahwa perkawinan itu penderitaan. Tetapi, jika kedua orang tua selalu menunjukkan rasa saling menghormati dengan bentuk komunikasi yang akrab maka anak akan menyimpulkan ternyata pernikahan itu indah. Semua ini akan berdampak ketika sudah tumbuh dewasa.

Selanjutnya, semua pengalaman hidup yang berasal dari lingkungan kerabat, sekolah, televisi, internet, buku, majalah, dan berbagai sumber lainnya menambah pengetahuan yang akan mengantarkan seseorang memiliki kemampuan yang semakin besar untuk dapat menganalisis dan menalar objek luar. Mulai dari sinilah, peran pikiran sadar (conscious) menjadi semakin dominan. Seiring perjalanan waktu, maka penyaringan terhadap informasi yang masuk melalui pikiran sadar menjadi lebih ketat sehingga tidak sembarang informasi yang masuk melalui panca indera dapat mudah dan langsung diterima oleh pikiran bawah sadar.

Semakin banyak informasi yang diterima dan semakin matang sistem kepercayaan dan pola pikir yang terbentuk, maka semakin jelas tindakan, kebiasan, dan karakter unik dari masing-masing individu. Dengan kata lain, setiap individu akhirnya memiliki sistem kepercayaan (belief system), citra diri (self-image), dan kebiasaan (habit) yang unik. Jika sistem kepercayaannya benar dan selaras, karakternya baik, dan konsep dirinya bagus, maka kehidupannya akan terus baik dan semakin membahagiakan. Sebaliknya, jika sistem kepercayaannya tidak selaras, karakternya tidak baik, dan konsep dirinya buruk, maka kehidupannya akan dipenuhi banyak permasalahan dan penderitaan.

Kita ambil sebuah contoh. Ketika masih kecil, kebanyakan dari anak-anak memiliki konsep diri yang bagus. Mereka ceria, semangat, dan berani. Tidak ada rasa takut dan tidak ada rasa sedih. Mereka selalu merasa bahwa dirinya mampu melakukan banyak hal. Karena itu, mereka mendapatkan banyak hal. Kita bisa melihat saat mereka belajar berjalan dan jatuh, mereka akan bangkit lagi, jatuh lagi, bangkit lagi, sampai akhirnya mereka bisa berjalan seperti kita.

Akan tetapi, ketika mereka telah memasuki sekolah, mereka mengalami banyak perubahan mengenai konsep diri mereka. Di antara mereka mungkin merasa bahwa dirinya bodoh. Akhirnya mereka putus asa. Kepercayaan ini semakin diperkuat lagi setelah mengetahui bahwa nilai yang didapatkannya berada di bawah rata-rata dan orang tua mereka juga mengatakan bahwa mereka memang adalah anak-anak yang bodoh. Tentu saja, dampak negatif dari konsep diri yang buruk ini bisa membuat mereka merasa kurang percaya diri dan sulit untuk berkembang di kelak kemudian hari.

Padahal, jika dikaji lebih lanjut, kita dapat menemukan banyak penjelasan mengapa mereka mendapatkan nilai di bawah rata-rata. Mungkin, proses pembelajaran tidak sesuai dengan tipe anak, atau pengajar yang kurang menarik, atau mungkin kondisi belajar yang kurang mendukung. Dengan kata lain, pada hakikatnya, anak-anak itu pintar tetapi karena kondisi yang memberikan kesan mereka bodoh, maka mereka meyakini dirinya bodoh. Inilah konsep diri yang buruk.

Contoh yang lainnya, mayoritas ketika masih kanak-kanak, mereka tetap ceria walau kondisi ekonomi keluarganya rendah. Namun seiring perjalanan waktu, anak tersebut mungkin sering menonton sinetron yang menayangkan bahwa kondisi orang miskin selalu lemah dan mengalami banyak penderitaan dari orang kaya. Akhirnya, anak ini memegang kepercayaan bahwa orang miskin itu menderita dan tidak berdaya dan orang kaya itu jahat. Selama kepercayaan ini dipegang, maka ketika dewasa, anak ini akan sulit menjadi orang yang kuat secara ekonomi, sebab keinginan untuk menjadi kaya bertentangan dengan keyakinannya yang menyatakan bahwa orang kaya itu jahat. Kepercayaan ini hanya akan melahirkan perilaku yang mudah berkeluh kesah dan menutup diri untuk bekerjasama dengan mereka yang dirasa lebih kaya